Showing posts with label Poets. Show all posts
Showing posts with label Poets. Show all posts

Sunday, May 9, 2010

Catatan Kehidupan

Di Hamparan Nepheli ku jejaki bukit Thesaloni. Menjejak diiringi lebah yang tengah berasyik masyuk memadu untuk sang ratu. Wangi Eucalyptus mewarnai panorama Olimpus yang tengah berselimut Cumulonimbus. Dewi menari membuat silau hati yang terisi, berpaling jauh di ujung ufuk. Dewi menari tapi bukan bidadari, meniti kahyangan sembari sesekali mengintip kehidupan. Ku seruput Kopi dihamparan savanna yang tengah bersemi.
Bermuhibah dengan waktu yang selalu diam ketika ditanggap. Pernah sekali ku ajak bicara sang waktu hanya terkekeh dan meninggalkan ku dalam keadaan bertanya-tanya, apakah semua harus berada dalam equilibria? Sejenak kulafalkan Dubito ergo cogito ergo sum tetapi kemudian Descartes datang membenarkan, hilangkan Dubito ergo pakailah ungkapan cogito ergo sum. Ah, Descartes kau memang benar, memang sebaiknya ku tak pernah ragu.
Jangan kau sesali Kematian Socrates karena menjejali elenchus. Pandangi peninggalan etisnya yang terus melegenda. Apakah salah meyakini paradoks Socrates tatkala dia mengutuk kejahatan dan mengajak untuk menghargai kehidupan? Boleh lah ia berbeda dari Plato tapi jangan kau kutuk ia dalam kehinaan.
Termenung di Thessaloni teringat lambaian hidup. Kehidupan bukan logika formal Reductio ad absurdum. Meski logika terkadang terlalu penting untuk dienyahkan.
Di tengah Pareto Optimum kehidupan dilafalkan. Tapi ingat ia tidak selalu seperti yang diungkap. Mendaki terkadang meniti, di kala meniti perlu kecermatan. Tapi, tentu cermat terkadang mewah ditengah galau. Yah, hidup bukan seminaria yang bisa diperdebatkan. Terkadang perlu untuk berselancar dengan derasnya ombak tetapi ingat bahwaa itu hanya lah soal waktu. Kompromi terkadang diperlukan untuk mencapai the lowest common denominator seperti sering disebut oleh mendiang Cak Nur.
Terkadang kucoba memplot nya dalam cartesius tetapi ternyata mustahil untuk dilakukan karena terlalu banyak dimensi yang harus disertakan. Kuingat kembali raut waktu ketika ia terkekeh, ternyata ia tidak benar-benar meninggalkan, kuingat lamat-lamat di kejauhan ia berbisik: Raihlah kehidupan hari ini. Carpe Diem

Thursday, April 1, 2010

Watashi no Sakura

Di semi Indah pohon-pohon bersolek
Bermekaran sakura di ufuk mata
Merah muda merebak menghiasi sepi
Sejauh mata memandang hanya sakura yang bersahutan

Kilau sakura memekak mata
Menantang indah bila dipandang
Menusuk kalbu bila ditinggal
Sakura mekar untuk dicinta

Ramai nian orang memuji
Melantun harapan mendendang bahagia
Terhampar luas di sajadah timur
Menanti senja datang menjemput

Sakura mekar namun kuncupnya menunggu
Dahulu Subuh, Isya kan datang
Sakura mekar tak umur panjang
Minggu berganti senja kan menunggu

Sakura begitu dinanti namun bersisa episode singkat
Sakura merah muda lamat-lamat kuncup
Sakura terlewat hingga tunggulah mangkat
Sakura berlalu tanda usia tutup

Pendek bagai cinta
Cintaku adalah Sakura
Melekat amat sangat
Pendek namun usia

Cinta tersayang
Sakura kurenungkan
Di sajadah timur kau melantunkan
Sebuah Episode singkat kaya makna

Cintaku Sakura
Aishiteru
Watashi no Sakura

Thursday, March 4, 2010

Selamanya Di Hati

Jauh mu membuat ku Rindu
Menguak Kenangan akan masa lalu
Hanya sekejap yang tersedia namun betapa lama memori ini bercengkrama

Sungguh waktu seakan menjejak
Menapak meninggalkan rasa
Suka dan duka kita lalui menambah indah cerita dalam lekatan memori

Cinta, begitu dalam aku merasa
Dalamnya rasa membuat kalbu seakan terhujam
Namun cinta, hujaman itu tak lain adalah rasa
Terpendam namun sesekali tersemburat

Jauh mu memang membuat Rindu
Hati ku terkadang leluasa bergejolak
Namun Cinta, Gejlak itu adalah pertanda rasa
Terpendam namun sesekali tersemburat

Memori yang ada tak kan lekang dilewat masa
Cinta, masih ingat kah engkau tatkala kita beradu hati?
Sungguh masa itu telah lewat namun memori kan nampak lekat
Tak lekang di adu Zaman

Betapa aku mencinta namun ada yang lebih mencintamu
Sang pemilik cinta sekarang sedang mendekapmu
Tak elok rasanya jika ku harap kembali
Sang pemilik Cinta telah memanggilmu

Cinta, masih ingatkah kamu tatkala kita berjanji bersedekah terhadap peradaban?
Janji itu masih ada cinta, kan ku langsungkan janji itu
Demi rasa yang dalam
Demi amanah yang kau titipkan

Kepada sang pemilik cinta
Kutitipkan seorang yang tersayang
Sampai ketemu cinta
Biar sang waktu yang menuntunku

Monday, May 12, 2008

In Memoriam: Reform's Activists

Hari ini 10 tahun yang lalu
Tercecer darah dihujam peluru
Tentara bengis merenggut kibaran asa
Pekik tangis menyentak kalbu pertanda tutup usia

Impian di pendamkan selongsong peluru
Idhin sang ustad ingin bergelar Insinyur
Ditanya sang ibu 10 tahun yang lalu
Kapan engkau pulang nak?
Idhin menjawab, akan pulang hari Rabu
Idhin pun pulang tapi sudah terbujur kaku

Elang sang pelukis ingin bergelar arsitek
Ditembak dihalaman gedung
Peluru berlaku algojo
Pengoyak kanvas masa depan

Hendri berujar pada sang kakek
Pantang aku mundur dari garis terdepan
Peluru mengoyak sang komandan
Sapu tangan merah ditinggal untuk sang pacar

Heri bermimpi jadi pengusaha
Proposal ratusan juta sudah di depan mata
Nyawa pun terenggut
Usaha tak pernah terwujud

Hendri merantau hendak menjadi ekonom
Elang bersusah ingin jadi arsitek
Heri bergumam jadi saudagar
Idhin ingin jadi tukang insiyur
Kini arsitek, ekonom, saudagar dan insinyur berkonferensi di liang kubur

Tentara bengis entah siapa yang komando
Merobek, mengoyak, merampas mimpi sang muda

Catatan kuliah, sepatu, pakaian dan topi
Saksi bisu perjuangan
Hidup pun diakhirkan
Oleh sebutir peluru
Hari ini 10 tahun yang lalu

Tuesday, April 29, 2008

Aisha Rihana Hastiadi

Lahirlah sudah ke dunia

Seorang anak manusia

Aisha Rihana Hastiadi

Demikianlah orangtuamu memberi nama

Anak ku itu

Lahir di negeri yang tengah gontai

Lahir di tanah serampang

Lahir di negeri penggunjing

Anak ku itu

Lahir ditengah kegalauan

Lahir ditengah keterpurukan

Lahir ditengah kaum yang bejat

Kerisauan dan kegalauan menjadi sebuah pemakluman

Risau karena dunia bertambah bejat

Galau karena dunia mulai didominasi syahwat manusia

Syahwat kekuasaan, Syahwat penindasan, Syahwat berutang

Sungguh berat bebanmu nak

Berat akibat bangsa yang salah urus

Berat akibat bangsa yang termarjinalkan

Berat akibat bangsa yang terlampau banyak berutang

Duniamu kini nak

Berbeda dengan dahulu

Dahulu bugil adalah porno

Kini bugil adalah karya seni

Tak rela ku sampaikan cerita

Cerita kejamnya dunia

Cerita beratnya hidup di dunia

Beban kini berada di pundakmu nak

Karena engkau adalah sebuah pengharapan

Harapan akan masa depan cerah

Harapan akan sebuah kebangkitan

Aisha

Memegang asa

Melantun rasa

Menyemai jiwa

Tuesday, March 25, 2008

Maafkan Ana Ukhti

Tatkala awan putih berubah kelabu

Rasa di hati mengharu biru

Mencoba tenang tapi tam pak ragu

Seakan ombak yang menderu

Segala rasa berkacemuk di hati

Mencoba mencerna yang tersirat

Dalam pesan yang membuat jantung berdegup

Ditengah gegap dan gagap

Sungguh ukhti, bukan maksud ana untuk menusuk hati

Entah bagaimana ana harus meminta

Semua terasa begitu samar

Semua terasa begitu nanar

Tak kuasa hati ini ukhti

Membereskan yang terserak

Merapikan yang beriak

Menenangkan yang bergejolak

Awan kelabu jakarta kini terasa begitu gelap

Tatkala permintaan maaf ini tak segera ditanggap

Bila permintaan maaf tidaklah cukup

Biarlah rangkaian kata ini menenangkan hati yang sempat terkesiap

Maafkan ana ukhti....

Waktu

Sang waktu pun mulai menapak
mulai menjejak
mulai mengajak

Nurani pun mulai bijak
seiring sang waktu mengajak
untuk menapak
dan menjejak

Merindu

Jauh membuat rindu
Tak ubahnya bagai duri
Setiap saat menghujam hati
Bak pisau tajam diasah

Asa kini menggumpal
Asa kini berkumpul
Memicu ikhtiar
Bergantung doa

Sungguh Robbi
begitu aku mencintainya
cinta dalam dakwah
cinta dalam tautan harokah

Ya robbi
tak kuasa rasa ini
memendam rindu
teringat memori lalu
saat kami memadu

Kuatkanlah hati ini ya robbi
Berjihad dijalanmu
memadu kasih
Mengharap barokah

The Shout out

To the youth

who desire glory

To the Islamic community

who is in uncertainty

and goes astray

To the heir of civilization:

who has carved a remarkable achievement

in the pages of history of human being

To each and every Muslim:

who is convinced of his/her own future

as world leader and happiness seeker

in the after-life.

To all of them

we present this works.

“And fight them until persecution is no more, and religion is for Allah.”